Sembarang
Minggu, 31 Januari 2021
Senin, 16 Desember 2019
Kamis, 15 September 2016
Sabtu, 03 September 2016
Selasa, 12 Juli 2016
Aerodinamika
Diterjemahkan secara bebas dengan sepengetahuan FAA (Federal Aviation Administration) dari Pilot's Handbook of Aeronautical Knowledge. Dokumen asli bisa anda dapatkan di website www.faa.gov
“ pada tulisan ini dan berikutnya, beberapa kata-kata seperti lift dan gaya angkat, drag dan tahanan, weight dan berat, thrust dan tenaga, dapat dipertukarkan tanpa mengurangi arti. admin”
Gaya-gaya yang bekerja pada pesawat terbang
Dari beberapa hal, bagusnya kinerja penerbang dalam sebuah penerbangan bergantung pada kemampuan untuk merencanakan dan berkordinasi dengan penggunaan tenaga (power) dan kendali pesawat untuk mengubah gaya dari gaya dorong (thrust), gaya tahan (drag), gaya angkat (lift) dan berat pesawat (weight). Keseimbangan dari gaya-gaya tersebutlah yang harus dikendalikan oleh penerbang. Makin baik pemahaman dari gaya-gaya dan cara mengendalikannya, makin baik pula ketrampilan seorang penerbang.
Berikut ini hal-hal yang mendefinisikan gaya-gaya tersebut dalam sebuah penerbangan yang lurus dan datar, tidak berakselerasi (stright and level, unaccelerated).
Thrust, adalah gaya dorong, yang dihasilkan oleh mesin (powerplant)/baling-baling. Gaya ini kebalikan dari gaya tahan (drag). Sebagai aturan umum, thrust beraksi paralel dengan sumbu longitudinal. Tapi sebenarnya hal ini tidak selalu terjadi, seperti yang akan dijelaskan kemudian.
Drag, adalah gaya ke belakang, menarik mundur, dan disebabkan oleh gangguan aliran udara oleh sayap, fuselage, dan objek-objek lain. Drag kebalikan dari thrust, dan beraksi kebelakang paralel dengan arah angin relatif (relative wind).
Weight, gaya berat adalah kombinasi berat dari muatan pesawat itu sendiri, awak pesawat, bahan bakar, dan kargo atau bagasi. Weight menarik pesawat ke bawah karena gaya gravitasi. Weight melawan lift (gaya angkat) dan beraksi secara vertikal ke bawah melalui center of gravity dari pesawat.
Lift, (gaya angkat) melawan gaya dari weight, dan dihasilkan oleh efek dinamis dari udara yang beraksi di sayap, dan beraksi tegak lurus pada arah penerbangan melalui center of lift dari sayap.
Pada penerbangan yang stabil, jumlah dari gaya yang saling berlawanan adalah sama dengan nol. Tidak akan ada ketidakseimbangan dalam penerbangan yang stabil dan lurus (Hukum ketiga Newton). Hal ini berlaku pada penerbangan yang mendatar atau mendaki atau menurun.
Hal ini tidak sama dengan mengatakan seluruh keempat gaya adalah sama. Secara sederhana semua gaya yang berlawanan adalah sama besar dan membatalkan efek dari masing-masing gaya. Seringkali hubungan antara keempat gaya ini diterangkan dengan salah atau digambarkan dengan sedemikian rupa sehingga menjadi kurang jelas.
Pada dasarnya ini adalah pernyataan yang benar yang harus benar-benar dimengerti atau akan memberi pengertian yang menyesatkan.
Harus dimengerti bahwa dalam penerbangan yang lurus dan mendatar (straight and level),-tidak berakselerasi-, adalah benar gaya lift/weight yang saling berlawanan adalah sama, tapi kedua gaya itu juga lebih besar dari gaya berlawanan thrust/drag yang juga sama nilainya diantara keduanya, bukan dibandingkan dengan lift/weight. Untuk kebenarannya, harus dikatakan bahwa dalam keadaan stabil (steady):
- Jumlah gaya ke atas (tidak hanya lift) sama dengan jumlah gaya ke bawah (tidak hanya weight)
- Jumlah gaya dorong (tidak hanya thrust) sama dengan jumlah gaya ke belakang (tidak hanya drag)
Perbaikan dari rumus lama yang mengatakan “thrust sama dengan drag dan lift sama dengan weight” ini juga mempertimbangkan fakta bahwa dalam climb/terbang mendaki, sebagian gaya thrust juga diarahkan ke atas, beraksi seperti gaya lift, dan sebagian gaya weight, karena arahnya yang ke belakang juga beraksi sebagai drag. Pada waktu melayang turun (glide) sebagian vektor gaya weight diarahkan ke depan, beraksi seperti gaya thrust. Dengan kata lain, jika kapan pun arah pesawat tidak horisontal maka lift, weight, thrust dan drag akan terbagi menjadi dua komponen.
Seringnya, kesulitan yang dihadapi pada saat menerangkan gaya yang bekerja pada pesawat udara adalah masalah bahasa dan artinya. Contohnya, penerbang telah lama mempercayai bahwa pesawat mendaki karena kelebihan gaya angkat (excess lift). Hal ini tidak benar jika seseorang hanya memikirkan hubungannya dengan sayap saja. Tapi bagaimanapun hal ini benar, jika gaya angkat adalah penjumlahan total dari semua “gaya ke atas”. Tetapi ketika merujuk ke “gaya angkat dari thrust” definisi yang sebelumnya telah dibuat untuk gaya-gaya ini tidak berlaku lagi dan membuat lebih sulit. Hal yang tidak tepat dalam bahasa ini telah menjadi alasan untuk menggunakannya sebagai argumen, terutama dalam sektor akademik, bukannya untuk membuatnya lebih mudah sebagai penjelasan pada prinsip-prinsip dasar penerbangan.
Meskipun gaya-gaya yang bekerja pada pesawat terbang telah ditetapkan, masih diperlukan sebuah diskusi yang lebih detil tentang bagaimana penerbang menggunakannya untuk memproduksi penerbangan yang terkendali.
THRUST
Sebelum pesawat mulai bergerak, thrust harus digunakan. Pesawat akan tetap bergerak dan bertambah kecepatannya sampai thrust dan drag menjadi sama besar. Untuk menjaga kecepatan yang tetap maka thrust dan drag harus tetap sama, seperti halnya lift dan weight harus sama untuk mempertahankan ketinggian yang tetap dari pesawat. Jika dalam penerbangan yang datar (level), gaya thrust dikurangi, maka pesawat akan melambat. Selama thrust lebih kecil dari drag, maka pesawat akan terus melambat sampai kecepatan pesawat (airspeed) tidak sanggup lagi menahan pesawat di udara. Sebaliknya jika tenaga mesin ditambah, thrust akan menjadi lebih besar dari drag, pesawat terus menambah kecepatannya. Ketika drag sama dengan thrust, pesawat akan terbang dengan kecepatan yang tetap.
Terbang straight dan level (lurus dan datar) dapat dipertahankan mulai dari terbang dengan kecepatan rendah sampai dengan kecepatan tinggi. Penerbang harus mengatur angle of attack dan thrust dalam semua jangkauan kecepatan (speed regim) jika pesawat harus ditahan di ketinggian tertentu (level flight).
Secara kasar jangkauan kecepatan ini dapat dikelompokkan dalam 3 daerah (regim), kecepatan rendah (low-speed), menjelajah (cruising flight), dan kecepatan tinggi (high-speed).
Angle of attack haruslah cukup tinggi untuk menambah gaya angkat ketika kecepatannya rendah jika keseimbangan antara gaya angkat dan gaya berat harus dipertahankan. Gambar di bawah.
Jika thrust dikurangi dan kecepatan berkurang maka gaya angkat akan lebih kecil dari berat/weight dan pesawat akan mulai turun dari ketinggiannya. Untuk menjaga ketinggian penerbang dapat menambah angle of attack sebesar yang diperlukan untuk menghasilkan gaya angkat yang sama dengan berat/weight dari pesawat, dan waktu pesawat mulai terbang lebih lambat pesawat akan mempertahankan ketinggiannya jika penerbang memberikan thrust dan angle of attack yang sesuai.
Ada keadaan menarik dalam penerbangan straight & level dalam kecepatan rendah,-relatif terhadap equilibrium gaya-gaya-, dengan keadaan hidung pesawat yang lebih tinggi, ada komponen vertikal dari thrust yang membantu mendukung pesawat. Untuk satu hal, beban di sayap cenderung untuk kurang dari yang diperkirakan. Kebanyakan penerbang akan mengetahui pesawat akan stall, -jika keadaan gaya yang lain adalah sama-, pada saat kecepatannya menjadi lebih rendah biarpun dengan power on (tenaga mesin) dibandingkan dengan power off (tenaga mesin idle)(Aliran udara melalui sayap dari baling-baling juga membantu). Bagaimanapun jika analisa kita hanya dibatasi dengan 4 gaya pada definisi umum yang “biasa”, seseorang bisa mengatakan bahwa pada straight & level slow speed, thrust adalah sama dengan drag dan lift sama dengan weight.
Pada waktu straight & level flight ketika thrust ditambahkan dan kecepatan bertambah, maka angle of attack harus dikurangi. Karena itu, jika perubahan dilakukan dengan kordinasi yang benar, maka pesawat akan tetap berada di ketinggian yang sama, tapi dengan kecepatan yang lebih besar jika hubungan antara thrust dan angle of attack disesuaikan.
Jika angle of attack tidak disesuaikan (dikurangi) dengan pertambahan thrust maka pesawat akan mendaki (climb). Tapi dengan mengurangi angle of attack, lift berubah, membuatnya sama dengan weight, dan jika dikerjakan dengan benar maka pesawat akan tetap dalam level flight (tidak mengubah ketinggian). Penerbangan yang datar (level flight) dengan sudut angle of attack yang sedikit negatif adalah mungkin dalam kecepatan yang sangat tinggi. Ini buktinya, bahwa level flight dapat dilakukan dengan berapa pun angle of attack di antara sudut stall dan sudut yang relatif negatif pada kecepatan yang sangat tinggi.
DRAG
Drag atau hambatan dalam penerbangan terdiri dari dua jenis: parasite drag dan induced drag. Yang pertama disebut parasite drag karena tidak ada fungsinya sama sekali untuk membantu pesawat untuk dapat terbang, sedangkan yang kedua disebut induced karena dihasilkan atau terbuat dari hasil kerja sayap yang membuat gaya angkat (lift).
Parasite drag sendiri terdiri dari dua komponen
- form drag, yang terjadi karena gangguan pada aliran udara melalui badan pesawat, dan
- skin friction, hambatan dari gesekan dengan kulit pesawat.
Dari kedua jenis parasite drag, form drag adalah yang paling mudah untuk dikurangi pada waktu merancang sebuah pesawat. Secara umum, makin streamline bentuk pesawat maka akan menghasilkan bentuk yang mengurangi parasite drag.
Skin friction adalah jenis parasite drag yang paling sullit untuk dikurangi. Tidak ada permukaan yang halus secara sempurna. Bahkan permukaan yang dibuat dengan mesin pada waktu diperiksa menggunakan alat/kaca pembesar, mempunyai permukaan kasar yang tidak rata. Permukaan yang kasar ini akan membelokkan aliran streamline udara pada permukaan, menghasilkan hamatan pada aliran yang lancar. Skin friction ini bisa dikurangi dengan memakai cat/finish glossy yang rata dan mengurangi kepala rivet yang menyembul keluar, permukaan yang kasar dan tidak rata.
Ada satu lagi elemen yang harus ditambahkan pada waktu membahas tentang parasite drag waktu merancang pesawat. Parasite drag menggabungkan efek dari form drag dan skin friction. Gabungan ini disebut interference drag. Jika dua benda diletakkan bersebelahan, maka turbulensi yang terjadi bisa mencapai 50-200 persen lebih besar dibandingkan jika kedua benda tersebut ditest secara terpisah.
Tiga elemen ini, form drag, skin friction dan interference drag semua dihitung untuk menentukan parasite drag pada sebuah pesawat.
Bentuk sebuah objek adalah faktor yang penting dalam parasite drag. Juga, Indicated Airspeed (kecepatan yang ditunjukkan oleh indikator) adalah sama pentingnya ketika kita berbicara tentang parasite drag.
Drag pada sebuah objek yang berdiri pada posisi yang tetap, relatif terhadap aliran udara yang diberikan, akan bertambah secara kuadrat dari kecepatan udaranya. Menambah kecepatan dua kali akan menambah drag empat kali, menambah kecepatan tiga kali akan menambah drag sembilan kali. Hubungan ini hanya berlaku pada kecepatan subsonik, di bawah kecepatan suara. Pada kecepatan yang sangat tinggi, rasio profil drag yang biasanya bertambah sejalan dengan pertambahan kecepatan, ternyata akan bertambah dengan lebih cepat lagi.
Jenis dasar kedua dari drag adalah induced drag. Seperti kita ketahui dalam fisika bahwa tidak ada sistem mekanik yang bisa 100 persen efisien. Maksudnya, apapun bentuknya dari sebuah sistem, maka sebuah usaha akan memerlukan usaha tambahan yang akan diserap atau hilang dalam sistem tersebut. Makin efisien sebuah sistem, makin sedikit kehilangan usaha ini.
Sifat aerodinamik sayap dalam penerbangan yang datar menghasilkan gaya angkat yang dibutuhkan, tapi ini hanya bisa didapat dengan beberapa penalti yang harus dibayar, yaitu induced drag. Induced drag pasti ada ketika sayap menghasilkan gaya angkat dan faktanya jenis drag ini tidak bisa dipisahkan dari produksi gaya angkat. Konsekwensinya, drag ini selalu muncul pada saat gaya angkat dihasilkan. Sayap pesawat menghasilkan gaya angkat dengan menggunakan energi dari aliran udara bebas. Ketika menghasilkan gaya angkat, tekanan di permukaan bawah sayap lebih besar dari di permukaan atas. Hasilnya udara akan cenderung untuk mengalir dari dari daerah tekanan tinggi dari ujung sayap (wingtip) ke tengah kepada daerah tekanan rendah di atas sayap. Di sekitar ujung sayap ada kecenderungan tekanan-tekanan ini untuk menjadi seimbang, sama kuat, menghasilkan aliran lateral keluar dari bagian bawah ke bagian atas sayap. Aliran lateral ini membuat kecepatan yang berputar ke udara di ujung sayap dan mengalir ke belakang sayap. Maka aliran di sekitar ujung sayap akan berbentuk dua vortex yang mengalir (trailing) di belakang pada waktu sayap bergerak maju.
Ketika pesawat dilihat dari ekornya, votex-vortex ini akan bersirkulasi kebalikan arah jarum jam di sekitar ujung sayap kanan dan searah jarum jam di ujung sayap kiri.
Harus diingat arah dari putaran vortex-vortex ini yang bisa dilihat bahwa mereka menghasilkan aliran udara ke atas setelah melewati ujung sayap, dan aliran udara ke bawah di belakang trailing edge dari sayap. Aliran udara ke bawah ini sama sekali tidak dibutuhkan untuk menghasilkan gaya angkat. Inilah sumber induced drag. Makin besar ukuran dan kekuatan vortex-vortex ini dan pada gilirannya komponen aliran udara ke bawah dari aliran udara yang melewati sayap, makin besar efek dari induced drag. Aliran udara ke bawah di atas ujung sayap ini mempunyai efek yang sama dengan membelokkan vektor gaya angkat ke belakang; karena itu gaya angkat akan agak berbelok ke belakang sejajar dengan arah udara (relatif wind) dan menghasilkan komponen lift yang arahnya ke belakang. Inilah induced drag.
Juga harus diingat untuk membuat tekanan negatif yang lebih besar di atas sayap, ujung depan sayap dapat diangkat untuk mendapatkan angle of attack yang lebih besar. Juga jika sebuah sayap yang asimetri mempunyai angle of attack nol, maka tidak akan ada perbedaan tekanan dan tidak ada aliran udara ke bawah, maka tidak ada induced drag. Pada kasus apapun, jika angle of attack bertambah maka induced drag akan bertambah secara proporsional.
Cara lain untuk menyatakan hal ini, makin kecil kecepatan pesawat makin besar angle of attack yang dibutuhkan untuk menghasilkan gaya angkat yang sama dengan berat pesawat dan konsekwensinya makin besar induced drag ini. Besarnya induced drag ini bervariasi berbanding terbalik dengan kuadrat kecepatan pesawat.
Dari diskusi ini, dapat diketahui parasite drag bertambah sebanding dengan kecepatan kuadrat, dan induced drag bervariasi berbanding terbalik dengan kuadrat kecepatan pesawat. Dapat dilihat pula bahwa jika kecepatan berkurang mendekati kecepatan stall, total drag akan menjadi besar sekali karena induced drag naik secara tajam. Sama juga bila pesawat mendekati kecepatan maksimumnya, total drag akan menjadi besar karena parasite drag naik secara tajam. Seperti pada gambar berikut, pada beberapa kecepatan total drag menjadi maksimum. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan maksimum ketahanan dan jarak tempuh pesawat udara. Pada saat drag pada besaran minimumnya, tenaga yang dibutuhkan untuk melawan drag juga minimum.
Untuk mengerti efek dari lift dan drag di sebuah pesawat udara pada sebuah penerbangan keduanya harus digabungkan dan rasio lift/drag harus diperhatikan.
Dengan data-data lift dan drag yang tersedia pada bermacam-macam kecepatan pada saat pesawat terbang datar dan tidak berakselerasi, proporsi CL (Coefficient of Lift) dan CD (Coefficient of Drag) dapat dihitung pada setiap angle of attack tertentu. Hasil plotting untuk rasio lift/drag (L/D) pada angle of attack tertentu menunjukkan bahwa L/D bertambah ke maksimum kemudian berkurang pada koefisien lift dan angle of attack yang lebih besar seperti terlihat pada gambar. Perhatikan bahwa maksimum rasio lift/drag (L/D max) terjadi pada angle of attack dan koefisien yang tertentu. Jika pesawat beroperasi pada penerbangan yang stabil pada L/D max, maka total drag adalah minimum. Angle of attack apapun yang lebih kecil atau lebih besar dari yang ada di L/D max akan mengurangi rasio lift/drag dan konsekwensinya menambah total drag dari gaya angkat yang diberikan pada pesawat.
Lokasi dari center of gravity (CG) ditentukan oleh rancangan umum pada masing-masing jenis pesawat. Perancang pesawat menentukan sejauh apa center of pressure (CP) akan bergerak. Kemudian mereka akan menentukan center of gravity di depan center of pressure (CP) untuk kecepatan penerbangan yang terkait untuk membuat momen yang cukup untuk mempertahankan equilibrium penerbangan. Konfigurasi dari pesawat juga mempunyai efek yang besar pada rasio lift/drag. Sebuah pesawat layang dengan kinerja yang tinggi mungkin mempunyai rasio lift/drag yang sangat besar. Pesawat tempur supersonik mungkin punya lift/drag yang kecil pada penerbangan subsonik tapi yang menyebabkan hal ini adalah konfigurasi pesawat yang dibutuhkan pada saat terbang supersonik (dan L/D yang besar pada saat terbang dengan Mach number yang tinggi).
WEIGHT
Gravitasi adalah gaya tarik yang menarik semua benda ke pusat bumi. Center of gravity(CG) bisa dikatakan sebagai titik di mana semua berat pesawat terpusat. Pesawat akan seimbang di keadaan/attitude apapun jika pesawat terbang ditahan tepat di titik center of gravity. Center of gravity juga adalah sesuatu yang sangat penting karena posisinya sangat berpengaruh pada kestabilan sebuah pesawat terbang.
Posisi dari center of gravity ditentukan oleh rancangan umum dari setiap pesawat terbang. Perancang pesawat menentukan seberapa jauh center of pressure (CP) akan berpindah. Kemudian mereka akan menjadikan titik center of gravity di depan center of pressure untuk kecepatan tertentu dari pesawat untuk mendapatkan kemampuan yang cukup untuk mengembalikan keadaan penerbangan yang equilibrium.
Weight mempunyai hubungan yang tetap dengan lift, dan thrust bersama drag. Hubungannya sederhana, tapi penting untuk mengerti aerodinamika penerbangan. Lift adalah gaya ke atas pada sayap yang beraksi tegak lurus pada arah angin relatif (relatif wind). Lift diperlukan untuk meniadakan berat pesawat (weight, yang disebabkan oleh gaya tarik bumi yang beraksi pada massa pesawat). Gaya berat (weight) ini beraksi ke bawah melalui center of gravity pesawat. Pada penerbangan yang datar dan stabil, ketika gaya angkat sama dengan weight, maka pesawat dalam keadaan equilibrium dan tidak mendapatkan atau mkehilangan ketinggian.
Jika lift berkurang dibandingkan dengan weight maka pesawat akan kehilangan ketinggian. Ketika lift lebih besar dari weight maka ketinggian pesawat akan bertambah.
LIFT
Penerbang dapat mengendalikan lift. Jika penerbang menggerakkan roda kemudi ke depan atau belakang, maka angle of attack akan berubah. Jika angle of attack bertambah maka lift akan bertambah (jika faktor lain tetap konstan). Ketika pesawat mencapai angle of attack yang maksimum, maka lift akan hilang dengan cepat. Ini yang disebut dengan stalling angle of attack atau burble point.
Sebelum melangkah lebih lanjut dengan lift dan bagaimana lift bisa dikendalikan, kita harus menyelipkan tentang kecepatan. Bentuk dari sayap tidak bisa efektif kecuali sayap terus menerus “menyerang” udara baru. Jika pesawat harus tetap melayang, maka pesawat itu harus tetap bergerak. Lift sebanding dengan kuadrat dari kecepatan pesawat. Sebagai contoh, jika sebuah pesawat bergerak pada kecepatan 200 knots mempunyai lift empat kali lipat jika pesawat tersebut terbang pada kecepatan 100 knots, dengan syarat angle of attack dan faktor lain tetap konstan.
Dalam keadaan sebenarnya, pesawat tidak dapat terus menerus bergerak secara datar di sebuah ketinggian dan menjaga angle of attack yang sama jika kecepatan ditambah. Lift akan bertambah dan pesawat akan menanjak sebagai hasil dari pertambahan gaya angkat. Untuk menjaga agar lift dan weight menjadi sama, dan menjaga pesawat dalam keadaan lurus dan datar (straight and level) dalam keadaan equilibrium maka lift harus dikurangi pada saat kecepatannya ditambah. Normalnya hal ini dilakukan dengan mengurangi angle of attack, yaitu menurunkan hidung pesawat.
Sebaliknya, pada waktu pesawat dilambatkan, kecepatan yang berkurang membutuhkan pertambahan angle of attack untuk menjaga lift yang cukup untuk menahan pesawat. Ada batasan sebanyak apa angle of attack bisa ditambah untuk menghindari stall.
Kesimpulannya, bahwa untuk setiap angle of attack ada kecepatan/indicated airspeed tertentu untuk menjaga ketinggian dalam penerbangan yang mantap/steady, tidak berakselerasi pada saat semua faktor dalam keadaan konstan. (Ingat bahwa ini hanya benar pada saat terbang dengan mempertahankan ketinggian “level flight”)
Karena sebuah airfoil akan selalu stall pada angle of attack yang sama, jika berat ditambahkan maka lift harus ditambah dan satu-satunya metode untuk melakukannya adalah dengan menaikkan kecepatan jika angle of attack ditahan pada nilai tertentu tepat di bawah “critical”/stalling angle of attack.
Lift dan drag juga berubah-ubah sesuai dengan kerapatan udara (density). Kerapatan udara dipengaruhi oleh beberapa faktor: tekanan, suhu, dan kelembaban. Ingat, pada ketinggian 18000 kaki, kerapatan udara hanyalah setengah dari kerapatan udara di permukaan laut. Jadi untuk menjaga lift di ketinggian yang lebih tinggi sebuah pesawat harus terbang dengan kecepatan sebenarnya (true airspeed) yang lebih tinggi pada nilai angle of attack berapa pun.
Lebih jauh lagi, udara yang lebih hangat akan kurang kerapatannya dibandingkan dengan udara dingin, dan udara lembab akan kurang kerapatannya dibandingkan dengan udara kering. Maka pada waktu udara panas dan lembab (humid) sebuah pesawat harus terbang dengan true airspeed yang lebih besar dengan angle of attack tertentu yang diberikan dibandingkan dengan terbang pada waktu udara dingin dan kering.
Jika faktor kerapatan berkurang dan total lift harus sama dengan total weight pada penerbangan tersebut, maka salah satu faktor harus ditambahkan. Faktor yang biasanya ditambahkan adalah kecepatan atau angle of attack, karena dua hal ini dapat dikendalikan langsung oleh penerbang.
Harus disadari juga bahwa lift berubah langsung terhadap wing area/lebar sayap, asal tidak ada perubahan pada bentuk luas sayap/planform. Jika sayap memiliki proporsi yang sama dan bagian airfoil, sebuah sayap dengan luas 200 kaki persegi membuat lift dua kali pada angle of attack yang sama dibandingkan dengan sayap yang memiliki luas 100 kaki persegi.
Seperti dapat dilihat dua faktor utama dari cara pandang penerbang yang dapat dikendalikan langsung dan akurat adalah lift dan kecepatan.
Tentu penerbang juga dapat mengatur kerapatan udara dengan mengubah ketinggian terbang dan dapat mengendalikan luas sayap jika pesawat memiliki flaps dengan tipe yang dapat memperluas sayap. Tapi pada situasi umumnya, penerbang hanya mengendalikan lift dan kecepatan untuk menggerakkan pesawat. Cntohnya pada penerbangan straight & level, menjelajah pada ketinggian yang tetap, ketinggian dijaga dengan mengatur lift untuk mencocokkannya dengan kecepatan pesawat atau kecepatan jelajah, ketika menjaga keadaan equilibrium sewaktu lift sama dengan weight. Pada waktu melakukan approach untuk mendarat dan penerbang ingin mendapatkan kecepatan yang selambat mungkin, maka perlu untuk menambahkan lift ke maksimum untuk menjaga lift sama dengan weight dari pesawat tersebut.
disclaimer
Semua tulisan di site ini hanyalah untuk belajar dan meningkatkan ketrampilan personel penerbangan dan menambah wawasan masyarakat umum. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi dari otoritas yang berwenang dan pabrik pesawat, maka dokumen resmilah yang berlaku. Klik di judul disclaimer di atas untuk melihat keseluruhan aturan penggunaan ilmuterbang.com
Rabu, 05 November 2014
Materi Tentang Perlakuan Panas (Mechanical Engineering)
Perlakuan Panas
Pengertian Perlakuan
Panas
Perlakuan panas adalah proses pada
saat bahan dipanaskan hingga suhu tertentu dan selanjutnya didinginkan dengan
cara tertentu pula. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih
baik, dan yang diinginkan sesuai dengan batas-batas kemampuannya. Sifat yang
berhubungan dengan maksud dan tujuan perlakuan panas tersebut meliputi :
meningkatnya kekuatan dan kekerasannya;
mengurangkan tegangan;
melunakkan;
mengembalikan pada kondisi normal akibat
pengaruh pengerjaan sebelumnya; dan
menghaluskan butir kristal yang akan
berpengaruh terhadap keuletan bahan, serta beberapa maksud yang lain.
Menurut jenisnya,
perlakuan panas digolongkan menjadi tiga macam.
Hardening (mengeraskan), juga sering
dikatakan dengan istilah menyepuh keras atau mengeraskan sepuh.
Tempering (memudakan) mendinginkan
secara cepat bahan yang telah dikeraskan dengan maksud mengurangi kekerasannya.
Annealing (melunakkan) yaitu memanaskan
bahan yang telah dikeraskan agar kekerasannya berkurang, tetapi kekuatannya
meningkat.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembahasan ilmu bahan (logam) merupakan pembahasan yang cukup kompleks,
berbagai pertimbangan teknik ada di dalamnya. Mulai dari jenis bahan, peralatan
yang digunakan untuk mengolah, proses dalam pengolahan, dan masih banyak lagi
pertimbangan-pertimbangan lain yang perlu banyak dipelajari.
Diantara pembahasan dalam ilmu bahan, dan sekaligus sebagai Mata Kuliah adalah Perlakuan Panas yaitu mempelajari cara untuk merubah sifat mekanis suatu bahan dengan adanya pemanasan. Salah satu dari cara perlakuan panas adalah pelunakan logam atau dikenal dengan istilah Annealing. Banyak jenis dari cara/ proses Annealing ini, ada full Annealing, dan Spheroidized Annealing.
Sebagai upaya
mencari sifat logam yang sesuai dengan yang dibutuhkan diantaranya adalah dengan cara perlakuan panas. Perlu tidaknya perlakuan
panas dan bagaimana perlakuan panas yang dilakukan tergantung pada sifat coran
dan penggunaanya. Yang dimaksud dengan perlakuan disini adalah proses
untuk memperbaiki sifat-sifat dari logam dengan jalan memanaskan coran
sampai temperatur yang cocok dibiarkan beberapa waktu pada temperatur
itu,kemudian didinginkan ke temperatur
yang lebih rendah dengan kecepatan yang sesuai.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini dibuat rumusan masalah :
1. Apa definisi atau
pengertian dari proses anil & perlakuan panas ?
2. Bagaimana struktur
kimia dari logam yang diberikan perlakuan panas ?
3. Bagaimana jalannya
proses proses anil & perlakuan panas ?
4. Bagaimana sejarah
mulanya penemuan proses anil & perlakuan panas ?
5. Bagaimana sifat fisik
dari logam yang diberikan perlakuan panas ?
6. Bagaimana sifat
mekanik dari logam yang diberikan perlakuan panas ?
7. Apa manfaat dari
proses anil dan perlakuan panas pada kehidupan zaman sekarang ?
1.3 Manfaat dan Tujuan
Adapun manfaat dan tujuan dari pembuatan makalah :
1. Mengetahui apa yang
dimaksud dengan proses anil dan perlakuan panas.
2. Mengetahui struktur
kimia dari logam yang diberikan perlakuan panas.
3. Mengetahui jalannya
proses proses anil & perlakuan panas.
4. Mengetahui sejarah
mulanya penemuan proses anil & perlakuan panas.
5. Mengetahui sifat fisik
dari logam yang diberikan perlakuan panas.
6. Mengetahui sifat
mekanik dari logam yang diberikan perlakuan panas.
7. Mengetahui manfaat
dari proses anil dan perlakuan panas pada kehidupan zaman sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Proses Anil &
Perlakuan Panas
Proses anil merupakan proses perlakuan panas suatu bahan melalui pemanasan
pada suhu cukup tinggi dan waktu yang lama, diikuti pendinginan perlahan-lahan.
Anil, dalam metalurgi dan ilmu , adalah perlakuan panas dimana bahan mengalami
perubahan, menyebabkan perubahan dalam sifat-sifat seperti kekuatan dan
kekerasan. Ini adalah proses yang menghasilkan kondisi dengan pemanasan sampai
ke atas temperatur kristalisasi kembali dan mempertahankan temperatur yang
sesuai, dan kemudian pendinginan. Anil digunakan untuk menginduksi keuletan, bahan melunakkan,
meredakan tekanan internal, memperbaiki struktur dengan membuatnya homogen, dan
meningkatkan kerja dingin properti. Dalam kasus tembaga, baja, perak, dan kuninganproses ini dilakukan oleh pemanasan
secara substansial materi (umumnya sampai bersinar) untuk sementara waktu dan
membiarkannya dingin perlahan-lahan. Dalam mode ini logam adalah melunak dan
siap untuk bekerja lebih lanjut seperti pembentukan, stamping, atau
Perlakuan panas adalah suatu proses pemanasan dan pendinginan logam dalam
keadaan padat dengan tujuan untuk mengubah sifat-sifat mekanik dan struktur
mikro dari logam tersebut. Perlakuan panas hampir dilakukan pada material yang
akan dilakukan pengerjaan lanjut, dengan kata lain perlakuan panas menyiapkan
material setengah jadi untuk dilakukan pengerjaan selanjutnya.
Proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah sifat logam dikenal dengan
proses perlakuan panas (heat treatment). Proses perlakuan
panas adalah suatu proses mengubah sifat logam dengan cara mengubah struktur
mikro melalui proses pemanasan dan pengaturan kecepatan pendinginan dengan atau
tanpa merubah komposisi kimia logam yang bersangkutan. Tujuan proses perlakuan
panas untuk menghasilkan sifat-sifat logam yang diinginkan. Perubahan sifat
logam akibat proses perlakuan panas dapat mencakup keseluruhan bagian dari
logam atau sebagian dari logam. Prinsip perlakuan panas ini pada dasarnya
sangat sederhana, yaitu logam dipanaskan dengan laju pemanasan tertentu hingga
mencapai temperatur tertentu dan kemudian ditahan pada temperatur tersebut
dengan waktu tertentu serta akhirnya didinginkan dengan laju pendinginan
tertentu pula.
2.2 Struktur Kimia
Pada proses pembuatannya,
komposisi kimia yang dibutuhkan diperoleh ketika baja dalam bentuk fasa cair
pada suhu yang tinggi. Pada
saat proses pendinginan dari suhu lelehnya, baja mulai berubah menjadi fasa
padat pada suhu 13500, pada fasa ini lah berlangsung perubahan
struktur mikro. Perubahan struktur
mikro dapat juga dilakukan dengan jalan heat treatment. Bila proses pendinginan
dilakukan secara perlahan, maka akan dapat dicapai tiap jenis struktur mikro
yang seimbang sesuai dengan komposisi kimia dan suhu baja. Perubahan struktur mikro
pada berbagai suhu dan kadar karbon dapat dilihat pada Diagram Fase
Keseimbangan (Equilibrium Phase Diagram).

Gambar Diagram Near Equilibrium Ferrite-Cementid (Fe-Fe3C)
Keterangan gambar :
Dari diagram diatas dapat kita lihat bahwa pada proses
pendinginan perubahan – perubahan pada struktur kristal dan struktur
mikro sangat bergantung pada komposisi kimia.
· Pada kandungan karbon mencapai 6.67% terbentuk struktur mikro dinamakan
Sementit Fe3C (dapat dilihat pada garis vertical paling kanan).
· Sifat – sifat
cementitte: sangat keras dan sangat getas
· Pada sisi kiri
diagram dimana pada kandungan karbon yang sangat rendah, pada suhu kamar
terbentuk struktur mikro ferit.
· Pada baja dengan
kadar karbon 0.83%, struktur mikro yang terbentuk adalah Perlit, kondisi suhu
dan kadar karbon ini dinamakan titik Eutectoid.
· Pada baja dengan
kandungan karbon rendah sampai dengan titik eutectoid, struktur mikro yang
terbentuk adalah campuran antara ferit dan perlit.
· Pada baja dengan
kandungan titik eutectoid sampai dengan 6.67%, struktur mikro yang terbentuk
adalah campuran antara perlit dan sementit.
· Pada saat
pendinginan dari suhu leleh baja dengan kadar karbon rendah, akan terbentuk
struktur mikro Ferit Delta lalu menjadi struktur mikro Austenit.
· Pada baja dengan
kadar karbon yang lebih tinggi, suhu leleh turun dengan naiknya kadar karbon,
peralihan bentuk langsung dari leleh menjadi Austenit.
Penekanan terletak pada Struktur mikro, garis-garis dan Kandungan Carbon.
a. Kandungan Carbon
0,008%C = Batas
kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperature kamar
0,025%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperature 723
0,025%C = Batas kelarutan maksimum Carbon pada Ferrite pada temperature 723
b. Derajat Celcius
0,83%C = Titik
Eutectoid
2%C = Batas kelarutan
Carbon pada besi Gamma pada temperature 1130 Derajat Celcius
4,3%C = Titik Eutectic
4,3%C = Titik Eutectic
0,1%C = Batas
kelarutan Carbon pada besi Delta pada temperature 1493 Derajat Celcius
c. Garis-garis
Garis Liquidus ialah garis yang menunjukan awal dari proses pendinginan (pembekuan).
Garis Solidus ialah garis yang menunjukan akhir dari proses pembekuan (pendinginan).
Garis Solvus ialah garis yang menunjukan batas antara fasa padat denga fasa padat atau solid solution dengan solid solution.
Garis Liquidus ialah garis yang menunjukan awal dari proses pendinginan (pembekuan).
Garis Solidus ialah garis yang menunjukan akhir dari proses pembekuan (pendinginan).
Garis Solvus ialah garis yang menunjukan batas antara fasa padat denga fasa padat atau solid solution dengan solid solution.
Garis Acm = garis
kelarutan Carbon pada besi Gamma (Austenite)
Garis A3 = garis temperature dimana terjadi perubahan Ferrit menjadi Autenite (Gamma) pada pemanasan.
Garis A3 = garis temperature dimana terjadi perubahan Ferrit menjadi Autenite (Gamma) pada pemanasan.
Garis A1 = garis
temperature dimana terjadi perubahan Austenite (Gamma) menjadi Ferrit pada
pendinginan.
Garis A0 = Garis
temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Cementid.
Garis A2 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Ferrite.
Garis A2 = Garis temperature dimana terjadi transformasi magnetic pada Ferrite.
d. Struktur mikro
Ferrite ialah suatu
komposisi logam yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 0,025%C pada
temperature 723 Derajat Celcius, struktur kristalnya BCC (Body Center Cubic)
dan pada temperature kamar mempunyai batas kelarutan Carbon 0,008%C. Austenite
ialah suatu larutan padat yang mempunyai batas maksimum kelarutan Carbon 2%C
pada temperature 1130 Derajat Celcius, struktur kristalnya FCC (Face Center
Cubic). Cementid ialah suatu senyawa yang terdiri dari unsur Fe dan C dengan
perbandingan tertentu (mempunyai rumus empiris) dan struktur kristalnya
Orthohombic. Lediburite ialah campuran Eutectic antara besi Gamma dengan
Cementid yang dibentuk pada temperature 1130 Derajat Celcius dengan kandungan Carbon
4,3%C. Pearlite ialah campuran Eutectoid antara Ferrite dengan Cementid yang
dibentuk pada temperature 723 Derajat Celcius dengan kandungan Carbon 0,83%C.
Secara umum heat
treatment dengan kondisi Near Equilibrium itu dapat disebut dengan anneling.
2.3 Proses Pembuatan
Proses anil, juga disebut "intermediate anil", "subkritis
anil", atau "dalam proses anil", adalah sebuah siklus perlakuan
panas yang mengembalikan sebagian dari keuletan untuk sepotong kerja yang
memungkinkan itu bekerja lebih jauh tanpa melanggar. Keuletan adalah penting
dalam membentuk dan menciptakan lebih halus karya melalui proses seperti bergulir, menggambar, penempaan, berputar, ekstrusi dan pos. Potongan dipanaskan
hingga suhu biasanya di bawah austenizing suhu, dan diadakan di
sana cukup lama untuk menghilangkan stres dalam logam. Potongan akhirnya
didinginkan perlahan-lahan sampai suhu kamar. Hal ini kemudian siap lagi untuk
bekerja dingin tambahan. Hal ini juga dapat digunakan untuk memastikan adanya
penurunan risiko distorsi dari pekerjaan sepotong selama permesinan,
pengelasan, atau siklus perlakuan panas lebih lanjut. Rentang temperatur anil
untuk proses berkisar antara 500 ° F hingga 1400 ° F, tergantung pada paduan yang
bersangkutan.
Ada tiga tahap dalam proses anil, dengan yang pertama adalah pemulihan fase, yang menyebabkan
pelunakan dari logam melalui penghapusan kristal cacat (tipe utama yang
cacat linear disebut dislokasi) dan tekanan internal yang mereka sebabkan.
Tahap pemulihan anil mencakup semua fenomena yang terjadi sebelum munculnya
ketegangan baru-free butir. Tahap kedua adalah rekristalisasi, di mana baru-regangan
butir bebas bernukleasi dan tumbuh untuk menggantikan mereka yang cacat oleh
tekanan internal. Jika anil diizinkan untuk melanjutkan setelah rekristalisasi
ini telah diselesaikan,pertumbuhan butir akan terjadi, di mana
mikrostruktur mulai mengasarkan dan dapat menyebabkan logam memiliki kurang
memuaskan sifat mekanik.
Biasanya, oven besar digunakan untuk proses anil. Bagian dalam oven cukup
besar untuk menempatkan benda kerja dalam posisi untuk menerima paparan
maksimum untuk sirkulasi udara panas. Untuk proses volume tinggi anil,
menembakkan gas furnace konveyor sering digunakan. Untuk workpieces besar atau
kuantitas tinggi bagian bawah tungku Mobil-akan digunakan untuk memindahkan
bagian-bagian dalam dan keluar dengan mudah. Setelah proses anil telah berhasil
diselesaikan, kadang-kadang workpieces tersisa di oven agar bagian-bagian untuk
proses pendinginan yang terkontrol. Sementara beberapa workpieces yang tersisa
di dalam oven sampai dingin mode yang terkendali, bahan-bahan lain dan paduan
dihapus dari oven. Setelah dikeluarkan dari oven, workpieces sering cepat mendingin
dalam proses yang dikenal sebagai pengerasan memuaskan. Beberapa metode khas
bahan pengerasan memuaskan melibatkan penggunaan media seperti udara, air,
minyak.
Proses annealing
adalah sebagai berikut :
a. Benda kerja kita masukkan ke dalam kotak baja yang kita isi dengan terak
atau pasir.
b. Panaskan pada temperatur 980o C selama 1 sampai 3 jam.
c. Setelah cukup waktunya kotak kita angkat dari dapur.
d. Benda kerja didinginkan dengan perlahan-lahan.
Proses pendinginan dapat dilakukan dengan cara :
a. Benda kerja dikeluarkan dai kotak dan dibiarkan dingin perlahan-lahan dengan
pendinginan dari udara.
b. Benda kerja bersamaan kotaknya dibiarkan dingin perlahan-lahan dengan
pendinginan udara.
c. Kotak yang berisi benda kerja dibiarkan dalam dapur dan dapur kita matikan.
Sehingga dapur, benda kerja dan kotak mengalami pendinginan perlahan-lahan dari
udara.
Proses perlakuan panas yaitu :
(1) Laju pemanasan, dimana
material dipanaskan sampai temperatur austenit. Adapun syarat-syarat pemanasan
yaitu :
· Pemanasan yang dilakukan tidak merubah bentuk komponen (tetap dalam
keadaan solid).
· Pemanasan tidak sampai pada fasa g yang bertemperatur tinggi, karena
butir akan menjadi kasar.
(2) Penahanan waktu (holding time), dimana setelah material mencapai
temperatur austenite kemudian dilakukan penahan waktu pada temperatur tertentu
untuk menyeragamkan struktur mikro.
(3) Laju pendinginan, dimana media pendingin yang digunakan yaitu oli,
air, tungku dan udara terbuka.
Proses Perlakuan Panas yang diterapkan pada baja perkakas ada dua kategori,
yaitu :
1. Softening (Pelunakan) : Adalah usaha untuk menurunkan sifat mekanik agar menjadi
lunak dengan cara mendinginkan material yang sudah dipanaskan didalam tungku (annealing)
atau mendinginkan dalam udara terbuka (normalizing).
2. Hardening (Pengerasan) : Adalah usaha untuk meningkatkan sifat material terutama
kekerasan dengan cara selup cepat (quenching) material yang sudah
dipanaskan ke dalam suatu media quenching berupa air, air garam, maupun oli.
Secara umum perlakukan panas (Heat treatment) diklasifikasikan dalam
2 jenis:
1. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan)
1. Near Equilibrium (Mendekati Kesetimbangan)
Tujuan dari perlakuan panas Near Equilibrium adalah untuk :
a. Melunakkan struktur kristal
b. Menghaluskan butir
c. Menghilangkan tegangan dalam
d. Memperbaiki machineability.
Jenis dari perlakukan panas Near Equibrium, misalnya :
· Full Annealing (annealing)
· Stress relief Annealing
· Process annealing
· Spheroidizing
· Normalizing
· Homogenizing.
2. Non Equilirium (Tidak setimbang)
Tujuan panas Non Equilibrium adalah untuk mendapatkan kekerasan dan kekuatan yang lebih tinggi.
Jenis dari perlakukan panas Non Equibrium, misalnya :
· Hardening
· Martempering
· Austempering
· Surface Hardening (Carburizing, Nitriding, Cyaniding,
Flame hardening, Induction hardening)
Beberapa jenis perlakuan panas yang umum dikerjakan antara lain:
1. Normalizing.
Normalizing pada umumnya menghasilkan struktur yang
halus, sehinga baja dengan komposisi kimia yang sama akan memiliki yiel strength, UTS, kekerasan, dan impact strength akan lebih tinggi dari pada hasil full annealling. Normalizing dapat juga dilakukan pada benda hasil
tempa untuk menghilangkan tegangan dalam dan menghaluskan butiran kristalnya.
Sehingga sifat mekanisnya menjadi lebih baik. Normalizing dapat juga menghomogenkan struktur mikro sehingga dapat memberi hasil yang
bagus dalam proseshardening, sehingga ummnya sebelum dihardening baja harus di normalizing terlebih dahulu.
Normalizing juga merupakan proses
perlakuan panas yang menghasilkan perlite halus, pendinginannya dengan
menggunakan media udara, lebih keras dan kuat dari hasil anneal. Secara
teknis prosesnya hampir sama dengan annealing, yakni biasanya dilakukan dengan
memanaskan logam sampai keatas temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid ,
50 Derajat Celcius diatas garis A3 sedang untuk baja hypereutectoid 50 Derajat
Celcius diatas garis Acm). Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan pada udara.
Pendinginan ini lebih cepat daripada pendinginan pada annealing.
2. Annealing.
Annealing ialah suatu proses laku panas (heat treatment) yang sering
dilakukan terhadap logam atau paduan dalam proses pembuatan suatu produk.
Tahapan dari proses Anneling ini dimulai dengan memanaskan logam (paduan)
sampai temperature tertentu, menahan pada temperature tertentu tadi selama
beberapa waktu tertentu agar tercapai perubahan yang diinginkan lalu mendinginkan
logam atau paduan tadi dengan laju pendinginan yang cukup lambat. Tujuan utama proses annealing ialah melunakan, menghaluskan butir kristal, menghilangkan internal stress, memperbaiki machinability dan memperbaiki sifat kelistrikan / kemagnetan. Jenis Anneling itu beraneka ragam, tergantung pada jenis atau
kondisi benda kerja, temperature pemanasan, lamanya waktu penahanan, laju
pendinginan (cooling rate), dll.
Annealing dilakukan untuk memperbaiki mampu
mesin dan mampu bentuk, memperbaiki keuletan, menurunkan atau
menghilangkan tegangan dalam dan menyiapkan struktur baja untuk proses
perlakuan panas. Proses anil terdiri dari beberapa tipe yang diterapkan untuk
mencapai sifat-sifat tertentu sebagai berikut :
a. Full Annealing
Merupakan proses perlakuan panas untuk menghasilkan perlite yang kasar
(coarse pearlite) tetapi lunak dengan pemanasan sampai austenitisasi dan
didinginkan dengan dapur, memperbaiki ukuran butir serta dalam beberapa hal
juga memperbaiki machinibility. Full annealing (FA) terdiri dari
austenisasi dari baja yang diikuti dengan pendinginan yang lambat didalam
tungku, kemudian temperatur yang dipilih untuk austenisasi tergantung pada
kandungan karbon dari baja tersebut. Full annealing juga diterapkan pada baja karbon
dan baja paduan hasil proses pengecoran serta baja hot worked hipereutektoid.
Untuk produk cor yang besar, terutama yang terbuat dari baja paduan, Full
annealing akan memperbaiki mampu mesin dan juga menaikan kekuatan akibat
butir-butirnya menjadi halus. Full annealing juga diterapkan pada baja-baja
dengan kadar karbon lebih dari 0,5% agar mampu mesinnya menjadi lebih baik. Pada proses full annealing ini biasanya dilakukan dengan memanaskan logam
sampai keatas temperature kritis (untuk baja hypoeutectoid , 25 Derajat hingga
50 Derajat Celcius diatas garis A3 sedang untuk baja hypereutectoid 25 Derajat
hingga 50 Derajat Celcius diatas garis A1). Kemudian dilanjutkan dengan
pendinginan yang cukup lambat (biasanya dengan dapur atau dalam bahan yang mempunyai
sifat penyekat panas yang baik).
Perlu diketahui bahwa selama pemanasan dibawah temperature kritis garis A1 maka belum terjadi perubahan struktur mikro. Perubahan baru mulai terjadi bila temperature pemanasan mencapai garis atau temperature A1 (butir-butir Kristal pearlite bertransformasi menjadi austenite yang halus). Pada baja hypoeutectoid bila pemanasan dilanjutkan ke temperature yang lebih tinggi maka butir kristalnya mulai bertransformasi menjadi sejumlah Kristal austenite yang halus, sedang butir Kristal austenite yang sudah ada (yang berasal dari pearlite) hampir tidak tumbuh. Perubahan ini selesai setelah menyentuh garis A3 (temperature kritis A3). Pada temperature ini butir kristal austenite masih halus sekali dan tidak homogen. Dengan menaikan temperature sedikit diatas temperature kritis A3 (garis A3) dan memberI waktu penahanan (holding time) seperlunya maka akan diperoleh austenite yang lebih homogen dengan butiran kristal yang juga masih halus sehingga bila nantinya didinginkan dengan lambat akan menghasilkan butir-butir Kristal ferrite dan pearlite yang halus.
Perlu diketahui bahwa selama pemanasan dibawah temperature kritis garis A1 maka belum terjadi perubahan struktur mikro. Perubahan baru mulai terjadi bila temperature pemanasan mencapai garis atau temperature A1 (butir-butir Kristal pearlite bertransformasi menjadi austenite yang halus). Pada baja hypoeutectoid bila pemanasan dilanjutkan ke temperature yang lebih tinggi maka butir kristalnya mulai bertransformasi menjadi sejumlah Kristal austenite yang halus, sedang butir Kristal austenite yang sudah ada (yang berasal dari pearlite) hampir tidak tumbuh. Perubahan ini selesai setelah menyentuh garis A3 (temperature kritis A3). Pada temperature ini butir kristal austenite masih halus sekali dan tidak homogen. Dengan menaikan temperature sedikit diatas temperature kritis A3 (garis A3) dan memberI waktu penahanan (holding time) seperlunya maka akan diperoleh austenite yang lebih homogen dengan butiran kristal yang juga masih halus sehingga bila nantinya didinginkan dengan lambat akan menghasilkan butir-butir Kristal ferrite dan pearlite yang halus.
Baja yang dalam proses pengerjaannya
mengalami pemanasan sampai temperature yang terlalu tinggi ataupun waktu tahan
(holding
time) terlalu lama biasanya butiran kristal
austenitenya akan terlalu kasar dan bila didinginkan dengan lambat akan
menghasilkan ferrit atau pearlite yang kasar sehingga sifat mekaniknya juga
kurang baik (akan lebih getas). Untuk baja hypereutectoid, annealing merupakan
persiapan untuk proses selanjutnya dan tidak merupakan proses akhir.

Gambar Annealing
b. Spherodized Annealing
Spherodized Annealing dilakukan dengan cara
memanaskan baja sedikit diatas atau dibawah temperatur kritik A1 didiamkan pada temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu kemudian
diikuti dengan pendinginan yang lambat. Spherodized Annealing untuk memperbaiki mampu mesin dan memperbaiki mampu bentuk.
Spherodized Annealing merupakan process
perlakuan panas untuk menghasilkan strukturcarbida berbentuk bulat (spheroid) pada matriks ferrite. Pada proses Spheroidizing ini akan
memperbaiki machinibility pada baja paduan
kadar Carbon tinggi. Secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : bahwa
baja hypereutectoid yang dianneal
itu mempunyai struktur yang terdiri dari pearlite yang “terbungkus” oleh
jaringan cemented. Adanya jaringan cemented (cemented network) ini meyebabkan baja (hypereutectoid) ini mempunyai machinibility rendah. Untuk memperbaikinya maka cemented
network tersebut harus dihancurkan dengan
proses spheroidizing.
Spheroidizing ini dilaksanakan dengan
melakukan pemanasan sampai disekitar temperature kritis A1 bawah atau sedikit
dibawahnya dan dibiarkan pada temperature tersebut dalam waktu yang lama
(sekitar 24 jam) baru kemudian didinginkan. Karena berada pada temperature yang
tinggi dalam waktu yang lama maka cemented yang tadinya berbentuk plat atau
lempengan itu akan hancur menjadi bola-bola kecil (sphere) yang disebut dengan spheroidite yang tersebar dalam matriks ferrite.
c. Stress relieving
Tegangan sisa yang terjadi di dalam logam sebagai hasil dari salah satu faktor
yang disebutkan diatas harus dapat dihilangkan agar sifat yang diinginkan dari
komponen yang terbuat dari logam tersebut dapat dicapai. Proses penghilangan
tegangan sisa dilakukan biasanya dengan cara memanaskan benda kerja dibawah
temperatur A1. Penghilangan tegangan sisa dari baja dilakukan dengan
memanaskan baja tersebut pada temperatur sekitar 550-700oC,
tergantung pada jenis baja yang diproses. Kemudian benda kerja ditahan pada
temperatur tersebut untuk jangka waktu tertentu agar diperoleh distribusi
temperatur yang merata diseluruh benda kerja selanjutnya didinginkan di dalam
tungku.
Merupakan process perlakuan panas untuk
menghilangkan tegangan sisa akibat proses sebelumnya. Perlu diingat bahwa baja
dengan kandungan karbon dibawah 0,3% C itu tidak bisa dikeraskan dengan membuat
struktur mikronya berupa martensite. Caranya dapat dilakukan dengan pengerjaan
dingin (cold working) tetapi perlu diingat
bahwa efek dari cold working ini akan timbul
yang namanya tegangan dalam atau tegangan sisa dan untuk menghilangkan tegangan
sisa ini perlu dilakukan proses Stress relief Annealing.
3. Quenching.
Quenching merupakan salah satu teknik perlakuan
panas yang diawali dengan proses pemanasan sampai temperatur austenit
(austenisasi) diikuti pendinginan secara cepat, sehingga fasa austenit langsung
bertransformasi secara parsial membentuk struktur martensit. Austenisasi
dimulai pada temperatur minimum ± 50°C di atas Ac3, yang merupakan temperatur aktual transformasi fasa ferit, perlit, dan
sementit menjadi austenit. Temperatur pemanasan hingga fasa austenit untuk
proses quenching disebut juga sebagai temperatur pengerasan (haardening temperatur).
Dan setelah mencapai temperatur pengerasan, dilakukan penahanan selama beberapa
menit untuk menghomogenisasikan energi panas yang diserap selama pemanasan,
kemudian didinginkan secara cepat dalam media pendingin yang dapat berupa air,
oli, dan udara bertekanan.
Tujuan utama quenching adalah menghasilkan baja dengan sifat kekerasan tinggi. Sekaligus
terakumulasi dengan kekuatan tarik dan kekuatan luluh, melalui transformasi
austenit ke martensit. Proses quenching akan optimal jika selama proses transformasi, struktur austenit dapat
dikonversi secara keseluruhan membentuk struktur martensit. Hal-hal penting
untuk menjamin keberhasilan quenching dan menunjang terbentuknya martensit khususnya, adalah : temperatur
pengerasan, waktu tahan, laju pemanasan, metode pendinginan, media pendingin
dan hardenability.
2.4 Sejarah Riwayat Penemuan
Pemakaiannya
Perkembangan kemajuan industri saat ini diindonesia rasa makin pesat,
dengan hadirnya berbagai macam produk kebutuhan manusia. Dimana, kemajuan
tersebut hanya bisa, bilamana ada dukungan sarana dan prasarana, bahan baku,
dan teknologi yang memadai. lndustri konstruksi dan rekayasa yang banyak
melibatkan disiplin ilmu, dan teknologi perlu dukungan bahan dasar yaitu logam
dengan berbagai karakter sifat-sifatnya. Dengan demikian seiring
perkembangannyai industri tersebut maka dituntut penyediaan bahan dasar logam
yang lebih baik, handal dan bermutu, dalam arti kata berkualitas. Untuk
mendapatkan logam yang berkualitas, perlu penelitian tentang logam, selain
sarana dan prasarana dalam teknologi bahan. Berbagai proses dapat dilakukan
perlakuan panas untuk mengubah sifat mekanik baja sesuai kebutuhan seperti
pengerasan dengan proses Quench, penormalan, pelunakan dengan proses anil dan
proses tempering. Perubahan sifat mekanik baja pada perlakuan panas, Diiringi
perubahan sifat fisik menyangkut struktur mikro bahan termasuk besar kecilnya
struktur butir yang dihasilkan.
2.5 Sifat Fisik
2.6 Sifat Mekanik
Sifat mekanik dari baja sangat tergantung pada struktur mikronya. Sedangkan
struktur mikro sendiri sangat mudah diubah melalui proses perlakuan panas.
Proses pengerasan pada baja dilakukan dengan memanaskan baja sampai ke
temperatur austenisasi dan menahannya pada temperatur tersebut untuk jangka
waktu tertentu dan kemudian didinginkan dengan laju pendinginan yang sangat
tinggi agar diperoleh sifat baja yang diinginkan.
Sifat mekanik tidak hanya tergantung pada komposisi kimia suatu
paduan, tetapi juga tergantung pada struktur mikronya. Suatu paduan dengan
komposisi kimia yang sama dapat memiliki struktur mikro yang berbeda, dan sifat
mekaniknya akan berbeda. Struktur mikro tergantung pada proses pengerjaan yang
dialami, terutama proses laku-panas yang diterima selama proses pengerjaan.
Ketahanan panas pada stainless steel merupakan hal penting pada bidang teknik
karena baja stainless steel memiliki ketahan terhadap panas yang tinggi.
Kita bisa dengan sengaja merubah sifat
mekanik logam dengan cara merubah struktur mikro logam melalui perlakuan yang
tepat.
Perlakuan yang diterapkan pada logam
dengan cara memanaskan logam pada temperatur tertentu dilanjutkan
dengan mengatur laju pendinginan. Tujuannya untuk mendapatkan sifat logam
yang sesuai dengan yang kita inginkan. Contoh, mengeraskan / menguatkan logam,
melunakkan / menguletkan logam. Meningkatkan ketahanan aus logam
Dengan perlakuan panas pada logam akan
didapatkan sitat mekanis logam sesuai yang kita inginkan. Jenis jenis perlakuan
panas misalnya pada baja karbon dengan melakukan proses anil yang merupakan
proses memanaskan logan (yang mengalami pembentukan dingin ) di atas temperatur
rekristalisasi dengan tujuan untuk memperbaiki mampu mesin, mampu bentuk, dan
keuletan dan juga untuk menghilangkan tegangan dalam.
Melalui perlakuan panas yang tepat, maka tegangan dalam dapat dihilangkan,
besar butir dapat diperbesar ataupun diperkecil dan ketangguhan dapat
ditingkatkan. Untuk mencapai hal ini, maka diperlukan prosedur perlakuan panas
yang tepat.
Pengaruh proses perlakuan panas sangat
perlu diperhatikan dalam upaya
untuk mengetahui dan meneliti akibat pengaruh panas tersebut terhadap suatu
logam . Contohnya : Perlakuan panas untuk logam besi cor nodular feritik juga dirasa penting meskipun seperti yang kita tahu bahwa besi cor nodular feritik adalah suatu besi
cor yang mempunyai sifat mendekati sifat mekanis dari baja . Tetapi meskipun
mempunyai sifat mekanis mendekati baja , besi cor nodular feritik juga
mempunyai kekurangan jika dibandingkan dengan baja . Adapun salah satu cara
untuk meningkatkan sifat mekanis dari besi cor adalah dengan perlakuan panas .
Penelitian ini dilakukan untuk melihat dan mengetahui sejauh mana
pengaruh dari proses perlakuan panas Anil dan Austemper terhadap sifat mekanis
dari Besi Cor Nodular Feritik yang disini diwakilkan oleh Besi Cor Nodular
Feritik grade FCD - 40 yang mempunyai sifat mekanis yang baik , yakni
keuletannya cukup tinggi.
untuk mengetahui dan meneliti akibat pengaruh panas tersebut terhadap suatu
logam . Contohnya : Perlakuan panas untuk logam besi cor nodular feritik juga dirasa penting meskipun seperti yang kita tahu bahwa besi cor nodular feritik adalah suatu besi
cor yang mempunyai sifat mendekati sifat mekanis dari baja . Tetapi meskipun
mempunyai sifat mekanis mendekati baja , besi cor nodular feritik juga
mempunyai kekurangan jika dibandingkan dengan baja . Adapun salah satu cara
untuk meningkatkan sifat mekanis dari besi cor adalah dengan perlakuan panas .
Penelitian ini dilakukan untuk melihat dan mengetahui sejauh mana
pengaruh dari proses perlakuan panas Anil dan Austemper terhadap sifat mekanis
dari Besi Cor Nodular Feritik yang disini diwakilkan oleh Besi Cor Nodular
Feritik grade FCD - 40 yang mempunyai sifat mekanis yang baik , yakni
keuletannya cukup tinggi.
Adapun pada penelitian ini besi cor nodular feritik grade FCD - 40 hasil
coran diberikan perlakuan panas anil dengan memanaskan besi cor nodular
sampai temperatur austenisasi kemudian ditahan selama 2,5 jam , setelah itu
temperatur diturunkan sampai temperatur anil dan ditahan selama S jam dan
dilakukan pendinginan tungku . Untuk proses austemper , besi cor dipanaskan
sampai pada temperatur austenisasi kemudian ditahan selama 2 jam kemudian
dilakukan pencelupan dengan media pencelupan timah cair untuk bainit atas dan
garam cair untuk bainit bawah, selama dicelup dilakukan penahanan temperatur
selama 3 jam dan disusul oleh pendinginan udara . Spesimen hasil proses baik
proses anil maupun austemper dilakukan pengamatan struktur mikro , pengujian
kekerasan , tank dan impak kemudian dibandingkan dengan besi cor nodular
hasil coran (tanpa proses).
Dari data penelitian menunjukkan bahwa pengaruh dari perlakuan panas
Anil di duga ( pendugaan dikarenakan persentase penurunan kecil sekali ) akan menurunkan kekerasan sebesar 2,45 % sehingga harga impact akan meningkat
Sedangkan untuk proses perlakuan panas Austemper dengan temperatur
austemper 524 oC dan temperatur austemper 240 oC masing-masing akan
meningkatkan kekerasan sebesar 58,87 % dan 70,88 % (untuk waktu temper
yang sama 3 jam) dan kekuatan tarik.
Langganan:
Komentar (Atom)

